24 Jun 2016

SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN DI TATAR SUNDA bag 16




III.       JEJAK AGAMA SUNDA

Di sekitar Gunung Pulasari, Gunung Aseupan dan Gunung Karang di Kabupaten Pandeglang, ditemukan pula batu batuan berbentuk dolmen, di antaranya:
1.    Batu Ranjang. Lokasi di Kampung Baturanjang, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk.
2.    Batu Pangasaman. Lokasi di Desa Parigi, Kecamatan Saketi.
3.    Batu Pangsalatan. Lokasi di tepi jalan raya di wilayah Kecamatan Mandalawangi.


Sedangkan batu batu yang ditemukan dalam bentuk lain, diduga memiliki nilai kepurbakalaan, antara lain:
1.    Batu Sanghiyang Kotok. Lokasi di lereng Gunung Pulasari.
2.    Batu Cangkrung. Lokasi di lereng Gunung Pulasari.
3.    Batu Keris dan Bata Teko. Lokasi di tengah hamparan pesawahan Desa Cimanuk, Kecamatan Cimanuk.
4.    Batu Kuda I. Lokasi di tepi jalan Desa Cimanuk, Kecamatan Cimanuk.
5.    Batu Kuda II. Lokasi di Pasir Pariuk Nangkub, Kampung Sampalan, Desa Parigi, Kecamatan Saketi.
6.    Batu Qur'an. Lokasi di Kampung Cibulakan, Kecamatan Cimanuk.
7.    Batu Notod. Lokasi di Desa Parigi, Kecamatan Saketi.
8.    Batu Saketeng. Lokasi di Desa Saketi, Kecamatan Saketi.
9.    Batu Tumbung. Lokasi di Kampung Cidaresi, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk.
10. Batu Kasur. Lokasi di Kampung Nembol, Kecamatan Mandalawangi.
11. Batu Tongtrong. Lokasi di Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk.
12. Batu Kolam Citaman. Lokasi di Desa Sukasari, Kecamatan Menes.

Di kawasan Popinsi Banten, masih terdapat gejala religi "agama masa silam", dan masih dianut oleh kelompok masyarakat yang menamakan diri "Sunda Wiwitan" (Sunda Awal). Hal ini diperkuat oleh laporan RA.A.A. Djajadiningrat, Bupati Serang tahun 1908, dalam laporan resminya (1908 no. 1786; van Tricht,1929: 47), yang dikutip Judistira Garna dalarn bukunya Orang Baduy, antara lain sebagai berikut:
Menurut adat dan kepercayaan, orang orang Baduy merupakan kelompok yang mewakili suatu zaman peradaban Pasundan yang telah silam. Meskipun kita telah jauh dari pengetahuan yang pasti tentang satu dan lainnya mengenai pandangan mereka namun melihat keterasingannya yang ketat yang mereka lakukan, sejauh ini dapat disimpulkan bahwa mereka itu bukan penganut ajaran Ciwa atau Wisnu, bukan pula penganut suatu sekte Hindu ataupun Buddha.
Walaupun kurang terdapat keterangan terinci, namun berdasarkan berbagai pengamatan dan laporan resmi Djajadiningrat serta pengamatan Pennings (1902), van Tricht mengemukakan tentang agama Sunda sebagai kepercayaan orang Baduy. Agama itu merupakan agama tua yang dipeluk oleh penghuni Wilayah Jawa Barat (sekarang) yang permulaan penyebaran agama Islam sedikit sekali dipengaruhi oleh agama Hindu (1929:47) (Garna,1987: 61)

Mengenai jejak religi masa silam seperti itu, Saleh Danasasmita pernah memberikan penjelasan, antara lain sebagai berikut:
Sesuai dengan kehidupan leluhurnya yang masih biasa berpindah pindah tiap habis musim panen, watak agama yang diwarisinya lebih sederhana dalam arti: praktis, akrab, dengan alam dan lebih mengutamakan isi daripada bentuk. Praktis sehingga dapat dilaksanakan di manapun mereka berada.
Akrab dengan alam sehingga lebih mengutamakan keheningan mutlak daripada kehiruk-pikukan masa. Lebih mementingkan isi sehingga ukuran kesungguhan dan kekhidmatan tidak didasarkan kepada nilai-nilai materil benda benda upacaranya melainkan dalam hati dan tingkah laku.
Jelas upacara upacara dalam agama Hindu yang penuh formalitas dengan urutan yang ketat serta mantera mantera yang tak boleh salah ucap atau salah susun, tidak serasi dengan karakter agama yang diwarisi dari para leluhurnya. Bagi mereka, sebongkah batu alam yang agak aneh sudah cukup untuk dijadikan titik pusat upacara pemujaan. Setelah selesai batu itu ditinggalkannya karena di tempat lain pun mudah memperoleh batu sejenis. Namun, sejenak kesungguhan hati yang dibungkus keheningan alam sekitar merupakan modal mereka yang utama dalam menjalin hubungan dengan Yang Gaib (Danasamita,1984: 43).

Situs religi masa silam terbesar di wilayah Propinsi Banten, berupa peninggalan dari masa pra Hindu, dengan ditemukannya beberapa punden berundak di wilayah Kabupaten Lebak. Keterangan peninggalan tersebut, diungkapkan oleh Halwany Michrob dalam buku Lebak Sibedug dan Arca Doms di Banten Selatan(1993), antara lain sebagai berikut:
Undakan batu di Kosala terdiri 5 tingkat yang pada setiap tingkatnya terdapat menhir. Kadang-kadang dijumpai sebuah papan batu (lab stone) berbentuk segi lima, dan pada bagian bawah yang terpendam dalam tanah terdapat beberapa buah batu bulat (batu pelor) yang bergaris tengah antara 10 15 cm. Sebuah arca kecil ditemukan di dekat struktur berundak tersebut kedua tangannya terlipat ke depan, salah satu di antaranya seperti dalam sikap mangacungkan ibujari.
Arca Domas adalah bangunan berundak dengan 13 tingkatan dan pada tingkat paling atas terdapat sebuah menhir berukuran besar, yang pemercaya dianggap melambangkan Batara Tunggal, Sang Pencipta Roh, dan kepadanya pula roh roh akan kembali.
Monumen Lebak Sibedug juga merupakan bangunan berundak empat tingkat setinggi ± 6 meter. Di depan undak batu ini terdapat dataran yang di tengahnya terdapat sebuah menhir. Menhir pusat ini ditunjang oleh batu batuan berukuran kecil (Michrob,1993: 5 6).

Dalam naskah kuno Kropak 630 Sanghiyang Siksakandang Karesian, 'terdapat jejak "agama asli" yang jauh lebih mendasar, jika dibandingkan dengan kedua gejala Hinduisme dan Budhisme. Hal tersebut pernah dikaji oleh Saleh Danasasmita, mengemukakan pendapatnya, antara lain sebagai berikut:
Dalam dasaperbakti di antaranya disebutkan, "ratu bakti di dewata, dewata bakti di hiyang" (raja tunduk kepada dewata, dewata tunduk kepada hiyang). Jadi hiyang lah yang paling tinggi. Kemudian dinyatakan bahwa dewa dewa seperti Brahma, Wisnu, Iswara, Siwa dan lain lainnya tunduk kepada Batara Seda Niskala. Dialah Batara Jagat (penguasa alam) "nu ngretakeun bumi niskala" (Yang mengatur dunia gaib). Seda Niskala adalah nama Hiyang yamg disangsakertakan (seda = sempurna; niskala = gaib). Nama itu dapat diartikan "Yang Maha Gaib" (Danasasmita, 1984:41).j

Ikhwal peninggalan Hinduisme yang terdapat di Pulau Panaitan, maupun temuan di Gunung Pulasari (yang kini telah dipindahkan ke museum), kemungkinan besar pernah tersingkir, akibat terdesak oleh kebangkitan kembali agama pribumi (agama Sunda). Kemungkinan-kemungkinan itulah, yang tidak sempat dikaji dan dipahami Claude Guillot, sehingga Sanghiyang Dengdek disebutnya "si bungkuk yang terpuja", dan dinilai bergaya "primitif” dan "kampungan". Guillot tidak memahami agama leluhur Sunda, sehingga ia lebih tertarik oleh "bentuk" arca Hinduisme, dari pada "isi" (makna dan fungsi) pitarapuja Sanghiyang Dengdek.
Tidak menutup kemungkinan, peninggalan kepurbakalaan Hinduisme dan Budhisme di Cibuaya dan Batujaya (Karawang), terkuburannya menjadi bukit bukit (hunyur), kemungkinan ada unsur kesengajaan.
Carita Parahiyangan menunjukkan adanya para wiku "nu ngawakan Jati Sunda" yaitu para pendeta yang khusus mengamalkan "agama Sunda" dan memelihara "kabuyutan parahiyangan". Sisa dari kabuyutan Jati Sunda atau parahiyangan sepeti itu adalah Mandala Kanekes yang dihuni "orang Baduy" sekarang. Leluhur mereka dalam jaman kerajaan mengemban tugas memelihara mandala atau kabuyutan “Jati Sunda" yang dewasa ini disebut sasaka domas. Orang Tangtu ("Baduy dalam") adalah keturunan "para wiku", orang panamping ("Baduy luar) merupakan keturunan "kaum sangga". Mereka bertugas melakukan "tapa di mandala" dan sudah menjalankan tugas tersebut secara turun temurun sejak masa jauh sebelum Kerajaan Pajajaran berdiri (Danasasmita,1984: 41).
Sendi sendi religi masa silam pra Hindu di seputar lereng dan suku Gunung Pulasari, mengingatkan adanya benang merah religius, antara tokoh Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya dengan "Pitarapuja Hiyang" nya; bangkit kembali pada masa kerajaan; Sunda, Galuh, Pajajaran dengan "Hiyang Seda Niskala" nya, terlestarikan dalam refleksi masyarakat Sunda Wiwitan (Baduy) masa kini dengan Agama Sundanya.


IV.       MELACAK RAJATAPURA

Ayatrohaedi, dalam makalah Naskah dan Sajarah (1989), mengemukakan tentang permulaan lahirnya ilmu arkeologi, antara lain sebagai berikut:
Sebagai seorang anak Eropah, sudah sejak kecil Heinrich Schhemann berkenalan dengan mitologi Yunani yang dianggap sebagai salah satu akar kebudayaan Eropah masa berikutnya. Selain di sekolah, mitologi Yunani itu dikenalnya juga melalui kedua orang tuanya, para tetangganya, dan buku buku yang dibacanya. la sangat tertarik oleh kisah Perang Troya yang menggambarkan bagaimana sebuah kota yang kokoh akhirnya dapat direbut berkat kecerdikan musuh yang mengepungnya. Ketertarikannya itu ternyata berkepanjangan menjadi tandatanya besar baginya. Mungkinkah kisah yang demikian nyata itu, benar benar hanya sekadar dongeng tanpa satu pun acuan peristiwa yang tetjadi? Jika orang lain beranggapan kisah itu sekadar mitos, tidak demikian halnya dengan Heinrich. Ia menduga bahwa kisah itu lahir karena ada suatu peristiwa penting yang pernah terjadi di kota atau sekitar kota Troya itu.
Kebetulan orangtuanya pedagang kaya, dan juga memahami rasa penasaran anaknya itu. Dengan dukungan dana dari orangtuanya, di samping ia sendiri kemudian menjadi saudagar yang juga kaya, ia memutuskan untuk pergi ke Yunani. Bukan untuk membuktikan kepada dunia bahwa di sana ada sebuah kota dan peradaban yang bernama Troya, melainkan lebih disebabkan oleh keinginan memenuhi rasa penasarannya itu. Bersama dengan istri dan sejumlah pembantu lapangan, mereka berangkat ke Yunani, lalu menuju tempat yang menurut berbagai acuan diduga sebagai tempat berdirinya kota Troya.
Berhari hari mereka menggali di situ, tak juga menemukan apa yang dicari. Ketika seluruh rombongan (kecuali Heinrich) sudah benar-benar berputus asa, cangkul yang dihujamkan ke tanah mengenai sesuatu yang keras. Keputus-asaan untuk sementara ditangguhkan, dan penggalian diteruskan. Hasilnya, bukti pertama bekas kota dan peradaban itu tergali, dan dari penggalian itu lahirlah ilmu yang kemudian dikenal sebagai widyapurba atau arkeologi (Ayatrohaedi,1989: 1-2).

Untuk memberikan ilustrasi yang lebih jelas, Ayatrohaedi mengemukakan peristiwa lainnya, mengenai keterkaitan antara naskah dengan pembuktian sejarah, antara lain sebagai berikut:
Dalam pada itu, nenek moyang orang India meninggalkan dua buah wiracarita yang terkenal, Mahabharata karya Wyasa dan Ramayana karya Walmiki. Menurut para ahli bahasa, kedua naskah itu berasal dari kurun masa antara 400 sM -400 M. Seperti juga halnya dengan kisah Troya, para pembaca naskah itu umumnya menganggap bahwa semuanya hanyalah sekadar dongeng, kalaupun bukan mitos. Tetapi, seperti halnya dengan Heinrich, ada raja orang yang tidak percaya akan keasaldongengan kedua wiracarita itu. Inggris yang ketika itu menjadi yang dipertuan di India, juga mempunyai beberapa orang warga yang menganggap bahwa kisah Troya kaol (=versi) India seharusnya tersembunyi di balik kisah tersebut.
Berbekal anggapan itu, mereka mencoba menggali dan menemukan kota yang seharusnya menjadi pusat kerajaan Indraprahasta (kita mengenalnya dengan nama Amarta), di daerah sebelah barat daya, beberapa kilometer dari kota Nutana Dehali (New Delhi). Hasilnya? Bekas kota tua yang diduga berasal dari pertengahan abad ke 12 sebelum Masehi (1150 sM) muncul kepermukaan. Dalam pada itu, dendam kesumat antara Rama dengan Rahwana, ternyata masih berlanjut hingga sekarang berupa sengketa antara orang Singhala di Srilangka (Alengka) dan orang Tamil yang tidak mustahil keturunan Subali dan Sugriwa. (Ayatrohaedi,1989: 2 3).

Dari dua ilustrasi yang dicontohkan oleh Ayatrohaedi, mendapatkan gambaran yang jelas, bahwa naskah dongeng sekalipun, dapat dimanfaatkan sebagai pemandu pembuktian sejarah. Karena masa penulisannya yang tidak muasir itu, diperlukan kecermatan dan ketelitian ,jika seseorang bermaksud menggunakan naskah sebagal sumber sejarah, termasuk naskah naskah yang sebenarnya menyebut dirinya sajarah, hikayat, asal usul, silsilah, carita, tambo, atau babad. Betapapun, nama-nama yang disandangnya itu mengisyaratkan bahwa sampai taraf tertentu, naskah naskah itu dapat dimanfaatkan sebagai sumber sejarah (Ayatrohaedi,1989: 6).

Kembali ke masalah Salakanagara, Dewawarman dan Rajatapura, yang telah lama menjadi perdebatan para akhli. Di Gunung Pulasari, sebagaimana yang diungkapkan oleh Claude Guillot, sesungguhnya merupakan pemandu ke arah pembuktian Salakanagara. Guillot mengemukakan pendapatnya, antara lain sebagai berikut:
Dari berbagai sisi, arca arca itu penting untuk pokok pembicaraan ini. Pertama, meskipun muka arca arca itu sudah dirusakkan (pada masa Hasanuddin?), gayanya sangat berbeda dari gaya arca Sunda, dan persis serupa dengan gaya akhir periode Jawa Tengah, artinya dapat ditentukan berasal dari paro pertama abad ke 10. Kedua, dapat dilihat bahwa arca-arca itu merupakan kelompok arca dewa yang terdapat dalam setiap arca dewa yang terdapat dalam setiap candi Siwa, yaitu Dewa Siwa, Agastya (titisan Siwa yang amat sering terdapat di Jawa), Durga (yaitu Parvati, sakti Siwa) dan Ganesha (putra Siwa), serta lingga yang sudah hilang, namun semula sudah barang tentu bersatu dengan yoni. Wahana (vahana) Siwa, yaitu sapi Nandi, mungkin sekali juga sudah hilang. Kehadiran arca Brahma barangkali menunjukkan bahwa, seperti di Prambanan, candi utama Siwa diapit oleh candi Brahma dan candi Wisnu, sedangkan arca Wisnu itu tidak ditemukan kembali. Ketiga, seperti dijelaskan dalam surat asisten residen tersebut, arca arca itu terdapat di Cipanas yaitu di Gunung Pulasari, dekat kawah yang oleh C.W.M. van de Velde digambarkan dalam sebuah etsa yang termasyhur pada pertengahan abad ke 19, pasti tidak lama sesudah pengangkatan arca-arca tersebut (Guillot,1996:102).

Guillot sudah menduga, bahwa arca arca hasil temuan dari Cipanas Gunung Pulasari itu, berasal dari peninggalan Hinduisme. Hanya saja, jika Guillot mau melirik hasil kajian para akhli tentang Salakanagara, temuannya sangat membantu dalam perkembangan selanjutnya.
Sementara itu, dalam naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, parwa I sarga 1, halaman 158-160, terdapat suatu riwayat tentang pernah dibuatnya candi beserta arca arcanya oleh Dewawarman VIII (240 362 Masehi), antara lain sebagai berikut:
...// diwasa sang de-
wawarman astama nyakra-
warti i bhumi Jawa ku-
lwan ring samangkana pra-
nah ing janapada rikung
kreta subhika//...

...// sang raja gawe
ta sira candi lawa-
n pratistha ing siwa ma-
hadewamardhacandra-
kapala // lawann ganaya-
nadewa /juga hya wi-
snudewa / anggwa sira
sakweh ing wa(i)snawa//ma-
pan siwa kabeh jana-
pada padaherup hu-
rip tulushayu/...
Terjemahannya:
Pada masa Dewawarman kedelapan memerintah di bumi Jawa Kulwan, pada waktu itu kehidupan warga masyarakat ada dalam keadaan makmur sejahtera. Sanghyang Agatna senantiasa dihormati, dipelihara dan sangatlah baik karenanya. Di antara warga masyarakat yang memuja Hyang Wisnu tidak seberapa banyaknya. Ada yang memuja Hyang Siwa. Ada yang memuja Hyang Ganayana. Ada yang memuja Siwa-Wisnu.
Maka demikianlah pemuja Hyang Ganayana [atau] disebut juga pemuja Ganapati. Golongan ini banyak pengikutnya. Adapun mata pencaharian warga masyarakat, di antaranya berburu di hutan pegunungan, berdagang, mengusahakan pelayanan, menangkap ikan di tengah lautan sepanjang tepi sungai. Juga memelihara binatang dan menanam buah-buahan, bertani dan sebagainya.
Sang Raja membuat candi, serta patung Siwa Mahadewamardhacandrakapala dan Ganayanadewa, juga Hyang Wisnudewa. Anutan mereka sekalian Waisnawa. Karena sekalian warga masyarakat, mengharapkan hidup lanjut dan selamat.

Temuan arca-arca di "Candi Pulasari", seperti yang dikemukakan oleh Claude Guillot, ternyata mendapat penjelasan dari naskah Pangeran WangIsakerta. Kekunoan arca arca tersebut, sangat berbeda dengan arca  arca lain yang lebih muda, yang ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Oleh karena kekunoannya itulah, Guillot mempersoalkan "arca-arca itu sudah dirusakkan (pada masa Hasanudin?)". Akan tetapi, pada bagian lain, Guillot menjelaskan, antara lain sebagai berikut:
Arca-arca yang disebutkan sebagai "arca Caringin" itu telah dilupakan lama sekali sejak diangkut ke Jakarta, dan di sana tercampur dengan ratusan arca lain yang sejenis, sehingga hilang keunikan tempat asalnya. Meskipun demikian arti pentingnya tidak luput dari perhatian R Friederiich pada tahun 1850. Dalam sebuah kajian mengenai gaya arca-arca yang disimpan di Museum Batavia, ia menulis tentang arca Ganesha, sebuah ulasan yang layak dikutip: "Bahwa arca semacam itu, beserta beberapa arca lain yang bergaya lama, telah ditemukan di daerah Banten, di bagian Pulau Jawa yang paling barat, berarti bahwa peradaban dan seni Hindu telah tersebar sampai ke pantai itu. Sejarah kerajaan yang telah melahirkan peninggalan kuno tersebut, dan bahkan nama kerajaan itu, untuk sementara belum dapat dipastikan. Jelas peninggalan kuno itu tidak dapat dianggap berasal dari Kerajaan Pajajaran sebab segala peninggalan dan segala sesuatu yang kita ketahui tentang Pajajaran menunjukkan keterbelakangan di bidang ilmu pengetahuan dan seni. Begitu pula peninggalan Majapahit jauh dari menyamai peninggalan masa masa sebelumnya (Guillot,1996:103).

Bagian yang terpenting dari pernyataan Guillot, terdapat pada bagian akhir (kesimpulan), yang kutipannya antara lain sebagai berikut:
Maka kami menarik kesimpulan bahwa peninggalan di Caringin cukup kuno, dan bahwa sebelum masa Pajajaran terdapat sebuah kerajaan Hindu di Banten (Guillot,1996:108).

Kutipan tersebut sangat berharga, memberikan kepastian lokasi; Banten sebelum masa Pajajaran. Oleh karena itu, penelusuran harus kembali ke wilayah Gunung Pulasari Pandeglang, sebagai tempat asal (insitu) arca arca Hinduisme itu pernah berada. Saleh Danasasmita, menunjuk muara Sungai Ciliman di wilayah Teluk Lada (Pandeglang), sebagai pusat kota Rajatapura (Danasasmita,1984:13).
Kota Palembang di Sumatera Selatan, antara abad ke 7 hingga abad ke-11, berada tepat di pantai. Sedangkan Palembang sekarang, posisinya jauh dari garis pantai, hingga mencapai 8 9 kilometer. Begitu pula yang terjadi di Gunung Muria (Jawa Tengah). Akibat endapan lumpur Sungai Lusi (Purwodadi) dan Sungai Tuntang (Demak) pada abad ke 11 (masa kekuasaan Raja Airlangga), daratan Gunung Muria menjadi satu dengan Pegunungan Kapur pantai utara (Blora) di Jawa Tengah (Daldjoeni,1984).
Pelabuhan Aruteun terletak di muara Sungai Cisadane. Pada waktu itu muara sungai Cisadane terletak jauh ke dalam, karena garis pantai Laut Jawa lima belas abad yang lalu jauh berbeda dengan sekarang. Tanah alluvial dari masa Ciaruteun sampai garis pantai Laut Jawa sekarang ialah hasil endapan selama lima belas abad (Muljana,1980:13).

Begitu pula hal yang sama, bisa saja terjadi dalam proses geologi pembentukan endapan di pantai barat Pandeglang. Kemungkinan besar, ketika Salakanagara didirikan oleh Dewawarman tahun 130 Masehi (1871 tahun yang lalu), posisi kota kecamatan Mandalawangi, kurang lebih 8 10 kilometer dari garis pantai, berada di pesisir barat Pandeglang. Kemungkinan tersebut, didukung oleh pendapat Dedi M. Barmawijaya (akhli geologi), bahwa posisi pantai barat Pulau Jawa abad ke 2 Masehi, berada pada ketinggian 120 meter di atas permukaan laut, saat ini (18 Maret 2001).
Lokasi Rajatapura sebagai ibukota Salakanagara, dalam naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, parwa I sarga 1, halaman 154, terungkap sebagai berikut:
....//hana pwa dewa
warman wamsanyakrawar
ting rajya salakana-
gara i bhumi jawa ku-
lwan/ i sedertg kitha-
rajyanya ngaran rajata-
pura ri tina ning sagara//
Terjemahannya:
Adapun wangsa Dewawarman memerintah kerajaan Salakanagara di bumi Jawa Barat, dengan ibukota kerajaan bernama Rajatapura, (terletak) di tepi laut.

Secara kebetulan, di situs Cihunjuran (Desa Cikoneng Kecamatan Mandalawangi), juru pelihara Burhan, menyimpan sebuah batu bulat elipsis (panjang 24 cm, lebar 18 cm, tinggi 9,5 cm). Di salah sate permukaan batu itu, terdapat titik titik dan garis garis yang terukir mirip peta. Oleh karena itulah, Burhan menyebutnya "Batu Peta".
Setelah dicoba dikaji bandingkan, dengan peta topografi Pandeglang (cetakan Belanda tahun 1938), terindikasi adanya beberapa ketepatan. Titik-titik dan garis-garis yang terukir pada "Batu Peta", sebagian besar bertepatan dengan peta lokasi situs kepurbakalaan, yang tersebar di sekitar lereng Gunung Pulasari. Kemudian, titik terbesar yang berbentuk persegi empat, berada di tengah tengah, bertepatan dengan posisi kota Kecamatan Mandalawangi sekarang. Posisi kota Kecamatan Mandalawangi, ditinjau dari segi pertahanan keamanan, sangat strategis, terlindung oleh 3 buah benteng alam: Gunung Pulasari, Gunung Aseupan dan Gunung Karang. Oleh karena itu, posisi Mandalawangi, diduga kuat, bekas lokasi Rajatapura ibukota Salakanagara,

WALLAAHU 'ALAM BISHOWAAB





No comments:

Post a Comment