24 Jun 2016

SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN DI TATAR SUNDA bag 8



C.        SIKAP TERHADAP MUSLIM

Sebelum Sri Baduga Maharaja lahir, di Kerajaan Sunda sudah ada penganut agama Islam. Tokoh tersebut adalah Bratalegawa, putera Mangkubumi Bunisora Suradipati. Bratalegawa adalah adik Giridewata alias Ki Gedeng Kasmaya, raja Cirebon Girang. Bratalegawa lahir tahun 1350 M, dua tahun lebih muda dari Sang Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana (kakeknya Sri Baduga Maharaja).


Sebagai saudagar besar yang memiliki banyak kapal layar, Bratalegawa tidak menjadi raja daerah (Ki Gedeng), ia sibuk oleh kegiatan niaga lautnya. Bratalegawa, menikah dengan wanita muslim dari Gujarat, bernama Farhana binti Muhammad. Kemudian dari Gujarat, bersama isterinya, Bratalegawa menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan mendapat nama baru menjadi Haji Baharuddin al Jawi.
Setelah kembali ke Kerajaan Galuh, ia lebih dikenal sebagai Haji Purwa Galuh (haji pertama di Galuh). Walaupun berbeda agama, ia tetap hidup rukun dengan saudara saudaranya. Kelak, cucunya yang bernarna Hadijah, menjadi isteri Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama mazhab Safi'i, yang memimpin pesantren di Bukit Amparan Jati Cirebon, merupakan pesantren tertua kedua di Kerajaan Sunda.
Sedangkan pesantren tertua pertama di Kerajaan Sunda, didirikan oleh Syekh Hasanudin, seorang ulama mazhab Hanafi, di Pura Dalem Karawang, dalam tahun 1416 M. Syekh Hasanudin dikenal dengan sebutan Syekh Quro, karena pondoknya menjadi tempat orang belajar mahir mengaji Qur'an.
Puteri Subanglarang, isteri kedua Sri Baduga Maharaja, adalah alumnus pesantren Quro tersebut. Ketiga anaknya, yaitu Pangeran Walangsungsang, Larasantang, dan Raja Sangara, diijinkan memeluk agama Islam yang dianut ibunya. Dalam beberapa Naskah Pangeran Wangsakerta, menggambarkan sikap Sri Baduga Maharaja terhadap Islam, dengan kalimat: rasika dharmika ring pamekul agami rasul (bertindak adil dan bijaksana terhadap pemeluk agama Islam).
Sesungguhnya, yang dikhawatirkan oleh Sri Baduga Maharaja perihal Cirebon, bukan "Islamnya". Akan tetapi, hubungan politis yang terlalu akrab, antara Cirebon dengan Demak. Tidak kurang dari 4 orang putera-puteri Syarif Hidayat (Cirebon), dijodohkan dengan putera puteri Raden Patah (Demak).
Karena perkawinan Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor, maka angkatan laut Demak yang dipimpin oleh Sabrang Lor, sebagian ditempatkan di Cirebon. Situasi itulah yang mendorong Sri Baduga Maharaja mengutus Putera Mahkota (Prabu Anom) Ratu Sanghyang Surawisesa, sebagai duta resmi negara, untuk mengadakan hubungan bilateral dengan Alfonso d'Albuquerque (dalam naskah Pangeran Wangsakerta, disebut Laksamana Bungker), raja muda Portugis di Malaka tahun 1512 M.
Misi tersebut diulang tahun 1521 Masehi. Akan tetapi, pada tahun itu, Sri Baduga Maharaja sudah wafat, Kesepakatan perjanjian Kerajaan Sunda (Pajajaran) - Portugis, akhirnya ditanda tangani di Pakuan, pada tanggal 21 Agustus 1522 M. Duta Portugis dipimpin Hendrique de Leme (Endrik Bule). Kunjungannya ke Pakuan, sekaligus untuk menghadiri upacara penobatan Prabu Sanghyang Surawisesa, sebagai penguasa Kerajaan Sunda (Pajajaran) pengganti Sri Baduga Maharaja.
Adapun terjemahan dari sertifikat Perjanjian Kerajaan Sunda Portugis tersebut, antara lain sebagai berikut:
“Tanggal 21 Agustus 1522 ses. M. hadir di pelabuhan Sunda ini: Amrrique Leme, kapten perjalanan ini, utusan Jorge d'Alboquerque, Kapten Malaka, dengan tugas untuk mengadakan perjanjian dan persetujuan perdamaian serta persahabatan dengan Raja Sunda. Raja Sunda tersebut menyetujui perutusan dan perjanjian persahabatan yang diadakan dengannya oleh A. Leme. Ia (Leme) menganggap baik dan mengerti, bahwa ia diberi izin untuk mendirikan sebuah benteng di atas tanahnya untuk Raja Portugis, Tuan Kami. Untuk maksud ini, ia (Raja Sunda) mengutus pejabat tingkat atas, yang disebut Paduka Tumenggung (mamdarim Padam Tumungo) dan bersama dengannya dua pejabat terhormat (diutus pula), jelasnya yang satu bernama Sang Adipati (Samgydepaty) yang lain Bendahara (Benegar), seperti pula syahbandar dari tempat pabean. Selain itu banyak orang baik. Pejabat-pejabat tersebut diberi kuasa penuh untuk mengambil keputusan, menentukan dan menunjuk tempat, yang dianggap cocok oleh Amrrique Lerne tersebut untuk (membangun) benteng bagi Raja Portugis. Paduka Tumenggung bersama pejabat pejabat lain dan orang-orang baik yang disebut di alas, bersama dengan Amrrique Leme tersebut pada tanggal itu pada tempat benteng akan dibangun, menegakkan sebatang padrao dari batu; jadi di sebelah kanan muara sungai, seberang awal pelabuhan. Kawasan ini yang disebut Kalapa. Maka, di situ batu peringatan (padrao) ditancapkan dengan lambang Raja, Tuan kami dan dengan sebuah inskripsi.
Maka, Raja Sunda tersebut menyetujui persetujuan dan kontrak yang diadakannya dengan Amrrique Leme, yakni supaya dengan bebas dan rela setiap tahun pada tanggal pembangunan benteng tersebut dimulai, menghadiahkan kepada Raja, Tuan kami, seribu karung lada sebagai tanda perdamaian dan persahabatan. Karung karung seperti dipakai lazim di negeri itu, sehingga setiap karung beratnya 10.600 caxas Java. Maka, beratnya seribu karung itu kurang lebih seratus enam puluh bahar.
Tentang seluruhnya itu, Amrrique Leme tersebut di atas itu menyuruh saya, Balthasar Memdes, penulis dari kapal San Sebastian, selaku perwira Raja, Tuan kami, membuat dokumen ini. Dengan demikian, saya memberi kesaksian, bahwa isinya menguralkan apa yang berlangsung dan disetujui.
Untuk buktinya, saya, penulis, mengadakan sertifikat ini dan (kemudian) menyalinnya ke dalam buku saya, yang ditandatangani dengan tandatangan saya yang biasa. Saksi saksi adalah Fernco de Almeida, kapten sebuah jung serta pedagang pedagang pangkat atas Raja. Tuan kami, pada perjalanan ini, dan Franscisco Annes, penulis dan Manuel Mendes dan Sebastian Diaz do Rego dan Francisco Diaz dan Joham Coutinho dan Joham Goncalvez dan Gil Barbosa dan Tome Pinto en Ruy Goncalvez dan Joham Rodriguez dan Joham Fernandez dan Joham da Costa dan Pedro Eannes dan Manuel Fernandez dan Diogo Fernandez, semuanya tentara, dan Diogo Diaz, Afonso Fernandez tentara juga dan Nicolas da Sylva, juru tinggi kapal tersebut dan George de Oliveira, juru mudi dan banyak (orang) lagi.
Dibuat pada hari, bulan dan tahun seperti tercatat pada kepala (surat) ini. (Lalu tandatangan orang orang) (Heuken, 1999: 54).

Hubungan internasional bilateral inilah, yang dicurigai para akhli sejarah, bahwa "Pajajaran adalah kerajaan yang memulai mengundang kaum penjajah" ke tanah air Indonesia. Padahal, pedagang Portugis pada waktu itu, masih sebagai pelaut murni. Berbeda dengan pelaut Belanda, yang selalu berambisi, menguasai wilayah perdagangan (kolonialis) yang disinggahinya.
Persaingan dagang memperebutkan jalur pelayaran Selat Malaka, di antara Kerajaan Sunda (Pajajaran) dengan Demak, sangat wajar terjadi, karena Pajajaran dengan Demak mempunyai strategi politik dagang masing masing. Sangat disayangkan, telaah ke arah itu baru di permukaannya saja, sehingga "sentimen agarna Islam" lah yang sering dimunculkan.
Sri Baduga Maharaja itu, tidak saja mengalami masa perkembangan Islam, tetapi mengalami juga masa hubungan Internasional yang sifatnya bilateral dengan bangsa Eropa, yang diwakili oleh pedagang Portugis. Sudut pandang inilah yang belum dipahami secara seksama.
Sri Baduga Maharaja adalah raja besar (Maharaja) terakhir di Kerajaan Sunda. Raja raja penerusnya, tidak sanggup mempertahankan kebesaran Kerajaan Sunda Pajajaran, bahkan cenderung kualitasnya semakin merosot. Kebesaran jiwanya dan toleransinya terhadap agama Islam, telah menjadikan Sri Baduga Maharaja tetap dihormati sebagal karuhun oleh masyarakat Sunda.
Cukup banyak Babad yang ditulis, dengan tujuan utama, merangkaikan secara paksa silsilah Bupati setempat dengan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi). Banyak kerabat Bupati masa silam di Tatar Sunda, yang sesungguhnya keturunan Galuh, Cirebon, Sumedang, dan Talaga, tetapi dalam menuliskan Babad setempat, selalu diupayakan ada kaitan darah dengan tokoh Sri Baduga Maharaja.
Setelah Indonesia merdeka, hubungan darah ini diubah dengan hubungan historis yang lebih umum sifatnya. Lahirnya pemeo seuweusiwi Siliwangi, sebagai ungkapan kesadaran terhadap sejarah dan warisan nilai budaya. Akhirnya jadilah Siliwangi itu suatu identitas Urang (Etnis) Sunda. Terbukti, keharuman nama Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja), tidak pernah luntur sejak masa ia hidup sampai sekarang.
Sampai saat kini, umum masih beranggapan, bahwa agama Sri Baduga Maharaja itu, kalau tidak Hindu tentunya Budha. Akan tetapi, kalau ditanyakan, dimanakah bekas candi candinya, di manakah patung dewa-dewa yang dipujanya? Kecuali temuan peninggalan Salakanagara dan Tarumanagara, secara arkeologis, belum dapat membuktikan secara pasti, bahwa agama Kerajaan Sunda Pajajaran itu Hindu atau Budha.
Dalam cerita Pantun sekalipun, mengenai tokoh Prabu Siliwangi, Juru Pantun tidak pernah menyebut nyebut tokoh dewa-dewa Hindu ataupun Budha. Adapun tokoh spiritual yang sering ditampilkan dalam cerita Pantun, adalah tokoh Sunan Ambu, Para Pohaci dan Para Bujangga.
Dalam naskah Kropak 406 Carita Parahiyangan, Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja, dijuluki Sang Mwakta ring Rancamaya, atau "Yang Moksa Di Rancamaya".
Mwakta atau Moksa, pinjaman kata dari idiom ajaran agama Budha. Dalam naskah Sunda kuna lainnya, digunakan kata lumah (pusara), sehingga menjadi sebutan Sang Lumahing, yang artinya dipusarakan. Sebutan Sang Mwakta atau Sang Lumahing, sama sama mempunyai arti "sukmanya telah disempurnakan".
Penyempurnaan sukma tersebut, dimaksudkan sebagui upaya agar "sukma" yang sudah meninggal itu, dapat kembali kepada Asal nya. Dzat Asal dalam religi Sunda, disebut Hiyang Batara Twiggal (Tuhan Yang Esa). Oleh karena itu, pada perkembangan bahasa Sunda yang selanjutnya, istilah itu berubah menjadi "nga-Hiyang".
Dalam Kropak 630 Sanghiyang Siksakandang Karesian, cita-cita urang Sunda yang saleh, tidak ingin manjing surga (masuk Surga). Melainkan rnanggihkeun hyang tanpa balik dewa (bertemu dengan Hyang, bukan dengan Dewa).
Kembali kepada Hiyang Batara Tunggal, karena Dia lah si tuhun lawan pretyaksa (Dialah Yang Hak dan Yang Wujud). Itulah arti sesungguhnya dari "ngahiyang". Sejalan dengan cita cita muslim yang saleh: kembali ke Khadirat Ilahi Rabbi.
Sebutan lain untuk Hiyang, di-Sanskerta kan menjadi Seda Niskala. Seda, artinya Sempurna; Niskala, artinya Gaib. Hiyang Seda Niskala, dapat diartikan sebagai Yang Maha Gaib.
Hal yang menarik lainnya dari religi Sunda, terungkap dalam Kropak 406 Carita Parahiyangan, di antaranya sebagai berikut:
Sumbelehan niat inya bresih snci wasah. Disunat ka tukangnya, jati Sunda teka.
Terjemahan:
Disunat agar terjaga dari kotoran, bersih suci bila dibasuh. Disunat kepada akhlinya, kebiasaan adat Sunda yang sesungguhnya.

Beberapa kesamaan keyakinan religi Sunda dengan religi Islam, bagi orang Sunda., sesungguhnya tidak jadi masalah. Kedatangan Islam, merupakan penyempurna religi yang telah lama dianutnya.
 
D.        PENERUS TAHTA KERAJAAN SUNDA (PAJAJARAN)

Berdasarkair sumber cerita Pantun dan Babad, kisah tentang Kerajaan Pajajaran, selalu diakhiri pada masa kekuasaan Prabu Siliwangi. Kisah tersebut, sudah merasuk ke dalam jiwa orang Sunda, dan sudah mendarah daging secara turun-temurun. Provokasi cerita fiksi Kian Santang, sudah demikian lama, menenggelamkan riwayat "Pajajaran" yang sesungguhnya. Adakah masuk di akal, Kian Santang yang konon katanya, hidup di masa penyebaran Islam di Tatar Sunda (abad ke 15 Masehi), dapat bertemu dengan Sayidina Ali (sahabat Rasulullah Muhammad), pada abad ke 7 Masehi? Sebab, jarak masa hidup Kian Santang dengan Sayidina Ali, dipisahkan oleh waktu kurang lebih 800 tahun! Kemudian, jika Kian Santang berstatus sebagai anak Prabu Siliwangi, setega itukah, memaksa ayahnya untuk masuk Islam?
Ada yang menafsirkan, bahwa tokoh Kian Santang itu, adalah Pangeran Walangsungsang alias Pangeran Cakrabuana. Selain itu, Kian Santang disamakan dengan Raja Sangara (Raja Sengsara), karena ia adiknya Larasantang, juga adiknya Pangeran Cakrabuana. Ada pula yang menafsirkan, bahwa Kian Santang itu Falatehan alias Fatahillah. Bahkan Maulana Hasanuddin dari Banten pun, sempat dicurigai sebagai Kian Santang. Untuk mencari kebenaran, perlu penelusuran ilmiah, berdasarkan ilmu sejarah.
Persesuaian Kropak 406 Carita Parahiyangan dengan Pustaka Carita Parahiyangan Cirebon abad ke 17, meriwayatkan penerus tahta di Kerajaan Sunda (Pajajaran), yang rangkumannya adalah sebagai berikut:
Setelah wafatnya Sri Baduga Maharaja (1521 Masehi), pewaris tahta Kerajaan Sunda (Pajajaran), adalah Prabu Sanghiyang Surawisesa. la putera Sri Baduga Maharaja dari Puteri Kentring Manik Mayang Sunda (puteri Sang Prabu Susuktunggal). Prabu Sanghiyang Surawisesa, pernah diutus ke Malaka untuk merintis perjanjian bilateral perdagangan Sunda - Portugis. Dalam catatan Portugis, ia disebut Raja Samiam, yang dimaksud adalah Raja Sanghiyang (Surawisesa).
Wafatnya tokoh Sri Baduga Maharaja, menimbulkan persoalan baru, membangkitkan ambisi Cirebon untuk memperluas wllayah kekuasaannya. Ketika Prabu Sanghiyang Surawisesa naik tahta, konflik dengan Pakungwati Cirebon semakin meruncing, hingga menimbulkan perang selama 15 kali.
Mengenai Raja Raja penerus tahta Kerajaan Sunda Pajajaran, terungkap dalam naskah Kropak 406 Carita Parahiyangan, dari lembar 20 sampai dengan lembar 25, uraiannya adalah sebagai berikut:
// disilihan ku prebu surawisesa / inya nu surup ka  padaren / kasuran / kadiran / kuwanen //  prang prang lima welas kali hanteu eleh / ngalakukeun bala sariwu prangrang ka kalapa deung aria burah / prangrang ka tanjung// prangmng ka ancol kiji // prangrang ka wahantengirang// prangrang ka simpang// prang prang ka gunung batu // prangrang ka saung agung// prangrang ka rumbut // prangrang ka gunung// prangrang ka gunung banjar// prangrang ka padang// prangrang ka panggoakan// prangrang ka muntur// prangrang ka hanum // prangrang ka pager wesi // prangrang ka medangkahiyangan // ti inya pulang ka pakwan deui // hanteu nu nahunan deui / panteg hanca buana // lawasniya ratu opatwelas tahun //

Terjemahan:
Diganti yaitu oleh Prabu Surawisesa yang dipusarakan di Padaren. Rata gagah perkasa, teguh dan pemberani.  Lima betas kali perang tak pernah kalah. Dalam melakukan peperangan menggunakan siasat Bala Sarewu (Pustaka Bala Seribu).
Perang ke Kalapa dengan Aria Burah. Perang ke Tanjung. Perang ke Ancol Kiji. Perang ke Wahanten Girang. Perang ke Simpang. Perang ke Gunung Batu. Perang ke Gunung Banjar. Perang ke Padang. Perang ke Pagoakan. Perang ke Muntur. Perang ke Hanum. Perang ke Pager Wesi. Perang ke Medang Kahiyangan. Setelah itu, kembali ke Pakuan lagi. Tidak sampai setahun, meninggal dunia. Lamanya menjadi ratu 14 tahun.

prebu ratudewata / inya nu surup ka sawah tampian dalem lumaku ngarajaresi // tape pwah susu // sumbelehan niat tinja bresih suci wasah disunat ka tukangna / jati sunda tetra / datang na bancana musuh Banal / tambuh sangkane // prangrang di buruan ageung// pejah tohaan sarendet deung tohaan rata sanghiyang// hang pandita sakti diruksak / pandita di sumedang// sang pandita di ciranjang pinejahan tanpa dose / katiban ku tapak kihir//sang pandita di jayagiri linabuhaken ningsagara// hang sang pandita sakti hanteu dosana // rounding rah.iyang ngaraniya / linalnhaken ring sagara tan keneng pati/ hurip muwaf, moksa tanpa tinggal raga tetra ring duniya// sinaguhniva. ngaraniya hiyang katingan // nya iyatnavatna .sang kawuri / hayzaa to .sire kabalik pupuasaan //samangkana to precinta // prebu ratudewata / lawasniya rata dalapan tahun / kasalapan panteg hence dine bwana //

Prabu Ratu Dewata, dialah yang dipusarakan di Sawah Tampian Dalem. Menjalankan kehidupan seperti Rajaresi. Puasa, hanya meminum susu. Disunat, supaya bersih suci dari kotoran. Disunat oleh akhlinya, itulah tradisi orang Sunda.
Datang bencana serangan musuh kasar, tidak diketahui identitasnya. Perang di Buruan Ageung (Alan alun). Gugur Tohaan Sarendet den Tohaan Ratu Sanghiang. Ada pendeta sakti dianiaya, pandita di Sumedang. Sang pandita di Ciranjang, dibunuh tanpa dosa, tertimpa tapak kikir. Sang Pandita di Jayagiri, ditenggelamkan ke laut. Ada pendeta sakti tak berdosa Munding Rahiyang namanya, ditenggelamkan ke laut, tidak mati, masih hidup, menghilang tanpa meninggalkan jejak di dunia. Terkenal namanya Hiyang Kalingan. Oleh sebab itu, hati hatilah yang hidup di kemudian hari, jangan hidup pura pura berpuasa. Begitulah keadaan jaman susah.
Prabu Ratu Dewata, lamanya jadi raja 8 tahun, kesembilan tahunnya meninggal dunia.

disilihan ku sang ratu sakti sang mangabatan ring
tasik / inya nu surup ka pengpelengan // lawasniya ratu dalapan
tahun / kenana ratu twahna kabancana ku estri larangan ti
kaluaran deung kana ambu tere // mati mati wong tanpa dosa /
ngarampas tanpa prege / tan bakti ring wong atuha / asampe
ring sang pandita //
aja tinut sang kawuri / polah sang nata //
mangkana sang prebu ratu / carita inya //

Diganti oleh Sang Ratu Sakti Sang Mangabatan di Tasik. Yaitu yang dipusarakan di Pengpelengan. Lamanya jadi ratu 8 tahun, karena tindakan ratu celaka oleh wanita larangan dari luar dan oleh ibu tiri. Sering membunuh orang tanpa dosa, merampas tanpa perasaan, tidak hormat pada yang tua, menghina pendita. Jangan diikuti oleh generasi belakangan, tindakan ratu seperti itu. Begitulah riwayat Sang Ratu.

tohaan di majaya alah prangrang/ mangka tan nitih
ring kadatwan // nu ngibuda sanghiyang panji / mahayu na ka
datwan / dibalay manelah taman mihapitkeun dora larangan //
nu migawe bale bobot pituwelas jajar/ tinulis pinarada war-
nana cacaritaan //

Tohaan di Majaya kalah perang, oleh sebab itu tidak diam di Kedaton. Dialah yang mencipta Sanghiang Panji, menghiasi Kedaton, di balai diatur berupa taman mihapitkeun panto larangan. Yang membangun bale bobot 17 jajar, diukir berbaris dibentuk berbagai cerita.

hanteu ta yuga dopara kasiksa tikang wong sajagat / kreta
ngaraniya // hanteu nu ngayuga sanghara / kreta //
dopara luha gumenti tang kali // sang nilakendra wwat
ika sangke lamaniya manggirang/ lumekas madumdum cereng//
manganugraha weka / hatina nanda wisayaniya / manurunaken
pretapa / putu ri patiriyan // cai ka tiningkalan nidra wisaya
ning baksa kilang//
wong huma darpa mamangan / tan igar yap tan pepela
kan // lawasniya ratu kampa kalayan pangan / ta tan agama
gyan kewaliya mamangan sadrasa nu surup ka sangkan
beunghar//
lawasniya ratu genepwelas tahun //

Dari zaman manusia sejagat tidak mengalami kejahatan disebut zaman kreta. Tidak ada yang menjadikan hancurnya jagat.
Dalam zaman Dopra, zaman perunggu, seterusnya diganti dengan zaman kali, zaman besi, Sang Nilakendra, karena terlalu lama dalam suasana senang memperturutkan hawa nafsu. Mempunyai anak, ke dalam hatinya sudah dirasuki bermacam reka perdaya, menurunkari pertapa, cucu tiri. Minuman keras dianggap seperti air bentuknya godaan nafsu.
Manusia yang berhuma rakus makannya, tidak gembira kalau tidak bercocok tanam. Lamanya ratu menuruti hawa nafu dalam makanan, tidak mengikuti adat kebiasaan, dalam menuruti nafsu kesenangan karena menganggap wajar dengan kekayaannya.
Iamanya jadi rata 16 tahun.

disilihan ku nusiya mulia // lawasniya rata sadewidasa /
tembey datang na prebeda // bwana alit sumurup ping ganal /
metu sanghara ti selam //
prang ka raja gaLuh / eleh na raja galuh / prang ka ka
lapa / eleh na kalapa // prang ka pakwan / prang ka galuh /
prang ka datar/ prang ka madiri / prang ka patege / prang
ka jawakapala / elehna jawakapala // prang ka galelang//
nyabrang/ prang ka salajo / pahi eleh ku selam //

Diganti oleh Nusia Mulya. Lamanya jadi ratu 12 tahun. Pertama datangnya perubahan. Dunia halus masuk ke yang kasar, timbul kerusakan dari Islam.
Perang dengan Rajagaluh, kalah Rajagaluh. Perang dengan Kalapa, kalah Kalapa. Perang dengan Pakuan, perang dengan Galuh, perang dengan Datar, perang dengan Mandiri, perang dengan Patege, perang dengan Jawakapala, kalah Jawakapala. Perang dengan Gegelang. Perang berlayar ke Salajo, semua kalah oleh orang Islam.

Berdasarkan Kropak 406 Carita Parahiyangan, Setelah Sri Baduga Maharaja wafat, ada 5 orang Raja penerus tahta Kerajaan Pajajaran, antara lain:

1.    Prabu Sanghiyang Surawisesa (1521 1535 Masehi);
2.    Ratu Dewatabuana (1535 1543 Masehi);
3.    Ratu Sakti (1543 1551 Masehi);
4.    Prabu Nilakendra (1551 1567 Masehi);
5.    Prabu Ragamulya Suryakancana atau Prabu Pucuk Umun Pulasari (1567 1579 Masehi).

Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka. Peristiwa runtuhnya Kerajaan Sunda Pajajaran, bertepatan dengan tanggal 11 Rabiul awal 987 Hijriyah, atau tanggal 8 Mei 1579 Masehi.
IV.       KESULTANAN PAKUNGWATI CIREBON

A.        PANGERAN CAKRABUANA

Banten pada masa penyebaran Islam di Kerajaan Sunda, sesungguhnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan, dari pendahulunya, Cirebon. Oleh karena itu, untuk membahas Banten, terlebih dahulu harus mengenal Cirebon.
Dalam Carita Parahiyangan, karya Tim Pimpinan Pangeran Wangsakerta, yang disusun oleh Atja dan Edi S. Ekadjati (1989), tentang Cirebon dikemukakan sebagai berikut:

Adapun mengenai raja raja Cirebon, mereka keturunan raja Pajajaran dari isteri Sang Prabhu yang bernama Nyai Subanglarang atau Subangkarancang. Dalam pernikahannya itu berputera beberapa orang. Dua di antaranya, ialah;

1.    Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana;
2.    Nyai Larasantang atau Saripah Muda'im (Atja & Ekadjati, 1989:165).

Dalam naskah naskah Cirebon lainnya dijelaskan pula, bahwa dari Subanglarang, Sri Baduga Maharaja memperoleh anak bungsu laki laki, bernama Rajasangara.
Dari isterinya yang pertama, Ambetkasih (puterinya Ki Gedeng Sindangkasih), Sri Baduga Maharaja tidak memperoleh anak. Sedangkan dari isterinya yang ketiga, Kentring Manik Mayang Sunda (puterinya Prabu Susuktunggal), berputera beberapa orang, di antaranya:
1.    Sanghiyang Surawisesa;
2.    Surasowan; dan
3.    Dewi Surawati; kelak diperisteri oleh Adhipati Surakerta.

Semua putera puteri Sri Baduga Maharaja, dilahirkan di Keraton Pakuan Pajajaran. Status Pangeran Walangsungsang, di antara semua putera puteri Sri Baduga Maharaja, berperan sebagai anak sulung. Status ini sangat memungkinkan, jika Pangeran Walangsungsang, merupakan anak terdekat pertama dengan ayahandanya.
Ibunda Pangeran Walangsungsang (Subanglarang), adalah murid Syekh Hasanudin, dari Pondok Quro Pura Dalem (Karawang). Syekh Hasanudm, adalah ulama Cina yang berasal dari Campa, pemeluk Islam madzhab Hanafi.
Adapun riwayat Syekh Hasanudin, hingga mendirikan Pondok Quro di Pura Dalem Karawang, adalah sebagai berikut:
Pada tahun 1416 Masehi, armada laut Cina, mengadakan pelayaran keliling, atas perintah Kaisar Cheng tu atau Kaisar Yunglo, Kaisar dari Dinasti Ming ketiga. Armada laut Cina tersebut, dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho alias Sam Po Tay Kam yang beragama Islam. la didampingi oleh jurututulisnya, Ma Huan, yang juga beragama Islam.
Armada laut Cina yang dipimpin Laksamana Cheng Ho, sebanyak 63 buah kapal layar, dengan prajurit laut sebanyak 27.800 orang. Tujuan pelayaran mereka, untuk menjalin persahabatan, dengan raja raja Cina di seberang lautan.
Di antara sekian banyak awak kapal, terdapat beberapa orang penumpang, yang dipimpin oleh Syekh Hasanudin. la bermaksud, menyebarkan ajaran agama Islam, di Pulau Jawa. Oleh karena sesama muslim, Laksamana Cheng Ho, mengijinkan Syekh Hasanudin beserta pengiringnya, untuk ikut menumpang pada kapal layarnya.
Ketika armada laut Cina itu singgah di pelabuhan Pura Dalem Karawang, Syekh Hasanudin beserta pengiringnya, memohon diri untuk turun. Sedangkan Laksamana Cheng Ho dengan armada lautnya, meneruskan pelayarannya ke Majapahit, di Jawa  Timur.
Syekh Hasanudin, ketika turun di Pura Dalem Karawang, disertai pula oleh puteranya, Tan Go Wat. Kelak, Tan Go Wat, dikenal sebagai Syekh Bantong. Setelah lama tinggal di Pura Dalem, akhirnya Syekh Hasanudin berjodoh dengan Ratna Sondari, puterinya Ki Gedeng Karawang. Dari perkawinannya, memperoleh anak, yang kelak dikenal sebagai Syekh Ahmad.
Syekh Hasanudin, mendirikan Pondok Quro tertua pertama di Kerajaan Sunda, di pesisir Pura Dalem Karawang, pada tahun 1416 Masehi. Peristiwa penting ini, terjadi pada masa pemerintahan Sang Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana (1371 1475 Masehi), kakeknya Sri Baduga Maharaja.
Selama 59 tahun, Sang Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana, menyaksikan berseminya agama Islam di wilayah kekuasaannya. Sebagai penguasa daerah bawahan Kerajaan Sunda, Ki Gedeng Karawang, tidak akan berani membiarkan Islam berkembang di wilayahnya, kalau tanpa seijin Sang Mahapraburesi.
Bagi Sang Mahapraburesi, Islam bukan hal yang baru dan acing. Sebab, adik iparnya, Bratalegawa alias Haji Purwa Galuh, sudah terlebih dahulu memeluk agama Islam.
Keteladanan Wastu Kancana sangat luar biasa. Hal ini tampak dalam Carita Parahiyangan. Penulis naskahnya sangat mahal dengan kata-kata, dan lebih kikir lagi dengan pujian. Namun bagi tokoh Wastu Kancana, ia bersedia mengurbankan lembaran kropaknya sampai 4 halaman, padahal untuk Sri Baduga Maharaja, walau pun ia masih sanggup memujinya, hanya disediakan seperempat halaman saja (Danasasmita,1984: 42).
Pangeran Walangsungsang, adalah cicit dari Sang Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana. la dengan kedua adiknya, pemeluk agama Islam mazhab Hanafi, mengikuti agama yang dipeluk ibunya, Subanglarang.
Sebagai catatan, madzhab Hanafi, adalah paham hukum Islam yang difatwakan oleh Imam Abu Hanifah. Nama sesungguhnya dari Abu Hanifah, adalah Nu'am bin Tsabit bin Zautha bin Mah. la. seorang bangsa Ajam, keturunan bangsa Parsi yang bermukim di Kabul, Afganistan.
Selain sebagai ibunda tercinta, peran Subanglarang bagi diri Pangeran Walangsungsang dan kedua adiknya, adalah Guru Agama. Di lingkungan Keraton Pakuan Pajajaran, hanya ibunya, yang membimbing Pangeran Walangsungsang dalam hal Islam. Kenyataan seperti itu, bagi Sri Baduga Maharaja, tidak menjadi masalah. Sikap Sri Baduga Maharaja terhadap Islam: rasika dharmika ring pamekul agami rasul (bertindak adil dan bijaksana terhadap pemeluk agama Rasul). Perlu dicatat, ketika Sri Baduga Maharaja masih remaja dan bernama Sang Pamanahrasa, dibina langsung oleh kakeknya, Sang Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana. Sikap "rasika dharmika ring pamekul agami rasul ", diteladani dari kakeknya.
Ketika Subanglarang wafat, Pangeran Walangsungsang serta adik-adiknya, merasa sangat kehilangan. Ketiadaan guru agama Islam lainnya di kota Pakuan Pajajaran, mendorong Pangeran Walangsungsang, memohon izin kepada ayahnya, untuk pergi mengembara, mencari guru agama Islam yang dapat memenuhi hasrat keresahan batinnya.
Tentu saja, walaupun dengan berat hati, Sri Baduga Maharaja terpaksa mengijinkan kepergian putera sulung kesayangannya itu. Peristiwa-peristiwa itulah, yang Iuput dipahami dan dijadikan dasar cerita, oleh para penulis babad. Sehingga rnereka beranggapan (sebagaimana yang sering terbaca dalam Babad Cirebon), bahwa Pangeran Walangsungsang itu, diusir dari keraton Pakuan Pajajaran, akibat konflik agama dengan ayahnya.
Sementara itu, Ki Gedeng Tapa, kakeknya Pangeran Walangsungsang yang menjadi penguasa wilayah Singapore (Cirebon), telah memukimkan seorang Guru Agama Islam mazhab Syafi'i: Syekh Datuk Kahfi.
Syekh Datuk Kahfi adalah putera Syekh Datuk Ahmad.
Syekh Datuk Ahmad adalah putera Maulana Isa dari Malaka.
Maulana Isa adalah putera Abdul Qadir Qaelani.
Abdul Qadir Qaelani adalah putera Amir Abdullah Khanudin.
Amir Abdullah Khanudin, adalah generasi ke 17 turunan Rasulullah Mohammad.
Syekh Datuk Kahfi berjodoh dengan Hadijah, cucu Haji Purwa Galuh (Bratalegawa), yang bermukim di Dukuh Pasambangan Cirebon. Kemudian, Syekh Datuk Kahfi, atas keinginan Ki Gedeng Tapa, mendirikan Pondok Quro di Bukit Amparan Jati (Gunung Jati) Cirebon. Pondok Quro Amparan Jati, merupakan pesantren tertua kedua di Kerajaan Sunda, setelah Pondok Quro Karawang. Oleh Ki Gedeng Tapa, Syekh Datuk Kahfi mendapat nama julukan, Syekh Nurjati.
Dalam pengembaraannya, Pangeran Walangsungsang disertai adiknya, Nyai Larasantang. Ketika Pangeran Walangsungsang dan Nyai Larasantang tiba di Singapore (Cirebon), keduanya berguru kepada Syekh Datuk Kahfi. Pangeran Walangsungsang yang semula menjadi penganut Islam mazhab Hanafi, dari Syekh Datuk Kahfi, mendapat pengetahuan agama Islam mazhab Syafi'i.
Sebagai catatan, mazhab Syafi'i adalah paham hukum Islam yang difatwakan oleh Imam Syafi'i. la dilahirkan pada bulan Rajab tahun 150 Hijriyah (767 Masehi), di kampung Ghuzah, wilayah Asqalan di dekat pantai Lautan Putih (Laut Mati) Palestina bagian tengah.
Pangeran Walangsungsang, mempelajari ilmu pemerintahan dan ketata negaraan, dari kakeknya, Ki Gedeng Tapa. la dipercaya memegang jabatan Pangraksabumi (Cakrabumi), dalam pemerintahan kerajaan daerah Singapura (Cirebon). Dalam pemerintahan sehari hari, Pangeran Walangsungsang berfungsi pula sebagai wakil kakeknya, Ki Gedeng Tapa.
Dalam naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawa dwipa parwa I sarga 4, dikemukakan riwayat Pangeran Walangsungsang, ketika mendirikan Dukuh Cirebon, antara lain sebagai berikut:
to sawiji ping desa haneng tira ning tasik carbon wastanya // rikung akwah tumuwuh parungpung alang alang lawan dukul sagara / mangidul ring wanakweh satwa krura / pantara ning/ waraha / liman pas lawan salwirya // atut tira ning tasik akweh saraksak mwang dok / ing parwataparswa careme kweh aswa // riking lwah akweh matsya lawan rebo n/

Terjemahannya:
Ada sebuah desa terletak di tepi pantai, Cirebon namanya. Di situ banyak tumbuhan pohon kayu alang alang dan rumput (semak belukar) laut. Di bagian selatannya, masih hutan belantara tempat binatang buas. Seperti babi hutan, harimau, ular, gajah, kura kura dan berbagai jenis lainnya. Di tepi pantai, banyak burung belibis dan elang laut (camar). Sedangkan di Gunung Ciremai, banyak kuda liar. Di sungai, banyak ikan dan rebon (udang kecil).

Pada awalnya, sebuah wilayah hutan yang dialiri sungai Cirebon itu, disebut Kebon Pasisir, atau Tegal Alang Alang, atau Lemah Wungkuk. Pada saat itu (tahun 1436 Masehi), di Kebon Pasisir, telah bermukim 5 orang penduduk, ialah: Ki Danusela alias Ki Gedeng Alang Alang; Nyai Arumsari (isterinya); Nyai Ratnariris atau Kancanalarang (puterinya); Ki Sarmawi (pembantunya); dan Isteri Ki Sarmawi (pembantunya). Mereka, pindah dari tempat tinggal asalnya, Cirebon Girang. Ki Danusela, adalah adiknya Ki Danuwarsih. Sedangkan Ki Danuwarsih, seorang ulama agama Budha, adalah mertua Pangeran Walangsungsang. Sebab, puteri Ki Danuwarsih, yaitu Nyai Indang Geulis, bersedia masuk Islam, yang akhirnya menjadi isteri Pangeran Walangsungsang.
Di kalangan Pondok Quro Amparan Jati, Pangeran Walangsungsang, lebih dikenal dengan sebutan Ki Samadullah. Nama itu diperoleh dari gurunya, Syekh Datuk Kahfi.
Pada tanggal 14 bagian terang bulan Caitra tahun 1367 Saka, atau hari Kamis tanggal 8 April 1445 Masehi, bertepatan dengan penanggalan 1 Muharam 848 Hijriyah, Ki Samadullah yang disertai isterinya (Nyai Indang Geulis), dan adiknya (Nyai Larasantang), serta 52 orang santri Pondok Quro Amparan Jati, membuka hutan Kebon Pasisir. Setelah Kebon Pasisir menjadi tempat terbuka, dibangunlah pemukiman baru, kemudian diberi nama Cirebon Pasisir. Diberi nama demikian, untuk membedakan dengan pemukiman yang sudah ada di wilayah hulu sungai Cirebon, yang disebut Cirebon Girang.
Semula, penduduk Cirebon Pasisir, hanya terdiri dari 52 orang santri pekerja, ditambah Ki Danusela dengan 4 orang anggota keluarganya. Setelah melihat ada pemukiman baru, rakyat dari Muara Jati dan dukuh Pasambangan, berdatangan dan pindah ke Cirebon Pasisir.
Atas kesepakatan bersama, Ki Danusela diangkat menjadi Kuwu Pertama (kuwu=sesepuh desa) di Cirebon Pasisir. Kemudian, Pangeran Walangsungsang alias Ki Samadullah, dipercaya menjadi Wakil Kuwu.

/ i sedeng ki somadullah rina
kcabumyaksa lawan winasta
n ki cakrabhumi ngaran ira //

Terjemahan:
Sedangkan Ki Samadullah sebagai akhli pertanahan (pangraksabumi), mendapat gelar Ki Cakrabumi, namanya.

ki gedeng alang alang so
mah lawan ki somadullah so
nah rahine kulem makakar
ma angluru rebon lawan iwa
k ing lwah haneng wetan grha ni
ra / mwang tira ning tasik / ri
sampunya tumuluy magawe tra
si / pens lawan uyah //
Terjemahannya:
Adapun rakyat Ki Gedeng Alang alang dan rakyat Ki Samadullah, sebelum tidur, berkumpul bekerjasama menumbuk rebon dan ikan, dari sungai sebelah timur pemukiman mereka (di tepi pantai), bekerja menyelesaikan pembuatan terasi, petis dan garam.

// a teher carbon dumadi desanung akrak hetunya janmapada sakeng desantara / sarwa wangsa hang rikung/ wwang doltinuku / thanayan thani / wwang angluru rebon lawan iwak tira ning sagara akrak prahwa mandeg/ ring samangkana sira pribhumi sarwa wangsa / sarwa panganut nira / pangucap nira tulisnya / praswabhawa nira / akarya nira kunang mebedha sowang-sowang//

Terjemahan:
Kemudian, Cirebon menjadi kawasan desa yang ramai di antara desa-desa lainnya. Berbagai bangsa ada di sana. Pedagang, para petani. Mereka menumbuk rebon dan ikan. Sekarang di tepi lautnya (pesisir) ramai disinggahi perahu. Pribuminya terdiri dari berbagai suku bangsa. Macam-macam anutannya, bahasa dan tulisannya, tingkah lakunya, keakhliannya, masing masing berbeda.

Pada tahun 1369 Saka (1447 Masehi), semua jumlah penduduk yang menetap di Dukuh Cirebon, adalah 346 orang. Laki laki 182 orang dan wanita 164 orang. Rinciannya: Sunda 196 orang, Jawa  106 orang, Sumatera 16 orang, Hujung Mendini 4 orang, India 2 orang, Parsi 2 orang, Syam 3 orang, Arab 11 orang, dan Cina 6 orang.
Wangsa Manggala dan Tirta Manggala, menduga kata "Cirebon" berasal dari kata "Sarumban" atau "Caruban". Hal itu, mengingat penduduk Cirebon pertama, terdiri dari campuran (saruban) berbagai suku bangsa. Sehingga, pustaka yang disusunnya, diberi judul Purwaka Caruban Nagari (Negeri Caruban Permulaan). Padahal, kata "Cirebon" sendiri, sudah memberikan arti dan makna yang cukup jelas. Cirebon, ci berarti sungai; dan rebon berarti udang kecil. Cirebon, berarti sungai yang banyak udang-udang kecilnya.

Di dukuh Cirebon Pasisir, Pangeran Walangsungsang larut dengan kehidupan masyarakat kecil, dan ia memerankan dirinya sebagal Guru Agama Islam, dengan panggilan akrab Ki Samadullah. Bersama santri-santrinya, Ki Samadullah, mendirikan Tajug (Masjid), diberi nama Jalagrahan. (Jala=air; grahan=rumah), yang terletak di tepi laut.

/ kaucap ri sedeng ki cakrabhumi lawan myi nira matithi ring giri ngamparan jati ing pondok guru nira // syeh datuk khahphi ya to syeh maulana idlophi ngaran ira waneh / vrineh pituduh ring sisya nira // mangkana ling sang guru / anak ngwang/ kamung marwa samidahaken to sera baitullah ing mekahnagari i ngarabbumi //
Terjemahan:
 Teriwayatkan, Ki Cakrabumi dan adiknya (Larasantang) pergi berkunjung ke Gunung Amparan Jati, ke tempat tinggal guru mereka Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Maulana Idlofi nama lainnya, kemudian memberi petunjuk kepada muridnya itu. Sang guru mengingatkan, "Anakku, agar kamu berdua sama sama mendapatkan kesempurnaan Islam, pergilah kalian ke Baltullah negeri Mekah di tanah Arab".

            Sesudah memperhatikan nasihat gurunya, Ki Samadullah dan adiknya, pergi berlayar untuk menunaikan ibadah Haji. Sedangkan isterinya Pangeran Walangsungsang, Nyai Indang Geulis, tidak bisa ikut, karena sedang hamil.
            Pangeran Walangsungsang bersama Nyai Larasantang, berlayar menuju Tanah Arab. Di tengah perjalanan, kapal layarnya singgah di negeri Mesir. Beberapa orang pembesar dari negeri Mesir, naik ke kapal layar, degan maksud yang sama, untuk menunaikan ibadah Haji ke Mekah. Tidak terkisahkan lamanya perjalanan. Akhirnya, kapal layar yang ditumpangi Pangeran Walangsungsang dan Nyai Larasantang, tiba di pelabuhan Jedah. Kedua kakak beradik dari Cirebon Pasisir itu, menjadi perhatian seorang Walikota Mesir Syarif Abdullah yang bergelar Sultan Makmun. Syarif Abdullah, adalah keturunan Bani Hasyim, yang pernah berkuasa atas wilayah Palestina. la. menjadi Walikota Mesir, di bawah kekuasaan Sultan Mesir wangsa Ayubi, dari Bani Mameluk.
Syarif Abdullah adalah putera Ali Nurul Alim.
Ali Nurul Alim putera Jamaluddin Al Husain (Kamboja).
Jamaluddin Al Husain putera Ahmad Shah Jalaluddin.
Ahmad Shah Jalaluddin putera Amir Abdullah Khanudin.
Sedangkan Amir Abdullah Khanudin, generasi ke I7 keturunan Rasulullah Muhammad.
Kembali kepada Syarif Abdullah.
Ternyata, Syarif Abdullah telah jatuh cinta, kepada Nyai Larasantang. Terpikat oleh puteri keraton Pajajaran yang cantik jelita, samyasanya sang candreng patwelas suklapaksya (bersinar bagaikan benderangnya bulan tanggal empat belas).
Di tanah suci Mekah, Pangeran Walangsungsang atau Ki Samadullah, Nyai Larasantang dan Syarif Abdullah (Walikota Mesir), sama sama tinggal di rumah Syekh Bayanullah, adiknya Syekh Datuk Kahfi. Di rumah Ki Bayanullah itulah, Nyai Larasantang dan Syarif Abdullah Saling jatuh cinta dan mengikat janji.

No comments:

Post a Comment